AKU PERNAH MENJADI PENYEMBAH KUBURAN
Sebuah Kisah Nyata
Pengawasan: Dr. Yasir Burhami
Dikoreksi oleh: Abdul Mun'im Asy-Syahat
Ditulis oleh: Ibrahim Fauzi
--
Awalnya, aku mengira istriku bercanda. Aku tahu sepupuku itu
sering kehilangan anak-anaknya pada usia dini, jadi aku berpikir dia mungkin
menamai anaknya "Domba" agar panjang umur, sebuah tradisi yang
dikenal di Mesir Hulu. Namun, sebelum aku sempat memastikan apa yang sebenarnya
terjadi, tiba-tiba pintu kamarku terbuka tanpa izin, dan seekor domba masuk
dengan liar. Ia mengejar anak-anak, menghancurkan apa pun yang menghalangi
jalannya, dan kemudian menabrak cermin dengan satu lonjakan dahsyat, membuat
cermin itu pecah berantakan.
Aku segera melompat dari tempat tidur. Istriku ketakutan dan
menyembunyikan diri di pojok. Sebelum aku sempat menghadapi domba itu, sepupuku
masuk dengan wajah panik. Ia yakin aku akan membunuh domba tersebut, sehingga
ia berteriak, "Hati-hati! Itu domba milik Sayed al-Badawi!" Dengan panggilannya,
domba itu mendekatinya seperti anak kecil yang manja. Ia memegang kepala domba
itu dengan lembut sambil menjelaskan bahwa ia datang dari Mesir Hulu bersama
domba yang telah dipeliharanya selama tiga tahun—usia yang sama dengan anaknya.
Ia telah bernazar bahwa jika anaknya selamat, ia akan menyembelih domba itu di
makam Sayed al-Badawi.
Sepupuku meminta aku ikut ke Tanta untuk menyaksikan upacara
nazar tersebut. Aku merasa harus menolak ajakannya dengan sopan, namun aku juga
ingin menjelaskan kepadanya bahwa perbuatannya itu adalah kesyirikan. Aku mulai
berdiskusi dengan suaminya terlebih dahulu. Aku sengaja menunjukkan buku Kitab
Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang aku pegang. Begitu ia
membaca judulnya, ia langsung bereaksi seolah memegang bara api, dan menuduhku
sebagai "Wahabi".
Aku mencoba menjelaskan kepadanya bahwa ajaran tauhid
berusaha menghidupkan kembali ibadah yang murni kepada Allah, serta menghapus
praktik-praktik perdukunan dan pemujaan kuburan yang memperkaya para penjaganya
setiap tahun. Namun, ia tetap keras kepala, membela orang-orang yang disebutnya
sebagai "wali Allah" yang menguasai alam semesta meskipun mereka
telah mati. Aku bertanya kepadanya, "Apakah mereka yang berada di kuburan
itu lebih mulia daripada Rasulullah SAW?" Pertanyaan itu membuatnya
termenung.
Meski begitu, ia tetap bersikeras untuk pergi ke Tanta
bersama istrinya. Aku menolak ikut, dan ia pun marah, menuduhku
"mengafirkan orang lain". Aku berkata kepadanya, "Siapa
sebenarnya yang kafir? Aku yang mengajakmu untuk beribadah kepada Allah, atau
kamu yang terus memohon kepada Sayed al-Badawi?"
Setelah itu, aku meminta mereka untuk tidak mampir lagi ke
rumahku jika mereka kembali dari upacara tersebut. Istriku menyesali sikapku
yang dianggapnya kasar, namun aku menjelaskan bahwa hidup dan mati seorang anak
berada di tangan Allah, bukan makhluk mana pun.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa sepupuku
langsung kembali ke Mesir Hulu tanpa mampir ke rumah kami. Namun, dua minggu
kemudian, suami sepupuku mengetuk pintu rumah kami. Ia tampak lesu dan meminta
kitab tauhid yang pernah aku tunjukkan. Setelah percakapan panjang, ia
mengungkapkan kabar mengejutkan: anak mereka meninggal setelah mereka pulang
dari Tanta.
Sepupuku dan istrinya sempat mengira bahwa pemotongan domba
di makam Sayed al-Badawi akan membawa berkah, sehingga mereka membawa beberapa
bagian daging domba itu ke rumah untuk dibagikan. Namun, daging tersebut rusak
karena tidak disimpan dengan baik, menyebabkan semua orang yang memakannya
terkena diare parah, termasuk anak mereka. Anak itu akhirnya meninggal karena
tubuhnya terlalu lemah untuk melawan penyakit.
Sepupuku terpukul, sementara istrinya mengalami gangguan
kejiwaan akibat kehilangan anaknya. Dalam kondisi ini, suami sepupuku mulai
menyadari bahwa semua praktik syirik yang mereka lakukan hanya membawa
kerugian. Ia memutuskan untuk berhenti dari segala kebiasaan tersebut.
Kami membawa istrinya ke rumah sakit untuk perawatan.
Setelah melalui berbagai terapi, termasuk terapi kejut listrik, ia mulai
membaik. Sepupuku juga berjanji untuk membimbing keluarganya agar meninggalkan
kepercayaan-kepercayaan batil.
Setelah perawatan selesai, mereka kembali ke Mesir Hulu,
bertekad meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan hanya bergantung kepada
Allah semata.
---
Pelajaran: Kisah ini menggambarkan betapa bahayanya praktik
syirik dan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Hanya dengan kembali
kepada tauhid, umat dapat meraih keberkahan dan keselamatan di dunia maupun
akhirat.

.png)