SEORANG FAQIH YANG BERBEDA!!
Oleh: Khalid Abdullah Al-Ghamdi
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagian orang ketika melakukan kesalahan, agar tidak
menyalahkan dirinya sendiri, mereka mulai mencari alasan dan pembenaran untuk
keluar dari rasa bersalah. Misalnya, seseorang yang durhaka kepada kedua orang
tuanya. Ketika dirinya bertanya, *"Mengapa kamu durhaka kepada orang tuamu?"*,
dia akan menjawab dirinya sendiri, *"Karena ayahku tidak memberiku uang,
tidak membelikan mobil, atau tidak mendidikku seperti cara si Fulan mendidik
anaknya."* Maka, dia pun mulai mencari alasan untuk melanjutkan
kedurhakaannya.
Hal yang sama terjadi pada seseorang yang memakan harta
orang lain. Dia akan duduk merenung, mencari pembenaran dan alasan untuk
membenarkan perbuatannya.
Diceritakan bahwa ada seorang pemuda yang mencintai ilmu dan
ingin melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain untuk menuntut ilmu.
Dahulu, para ulama tidak memiliki teknologi seperti yang kita miliki sekarang.
Saat ini, seseorang bisa menuntut ilmu sambil duduk di rumah melalui internet,
membaca buku, atau bertanya kepada para ulama. Namun, di masa lalu, seseorang
harus bepergian dari satu negeri ke negeri lain untuk belajar.
Pemuda ini, seorang pencari ilmu, berkeinginan untuk
melakukan perjalanan jauh. Ia membawa buku-bukunya, sedikit pakaian, dan
kemudian bergabung dengan kafilah perjalanan. Pemuda ini berbincang dengan para
anggota kafilah, mengimami mereka dalam shalat, dan mereka melanjutkan
perjalanan melintasi gurun.
Tiba-tiba, sekelompok perampok muncul dan menghadang
kafilah. Para perampok mengambil semua barang, harta, dan hewan tunggangan, bahkan
mencopot pakaian para anggota kafilah hingga hanya menyisakan penutup
aurat.
Pemuda itu berdiri memandang para perampok yang membagi-bagi
barang rampasan. Dia tidak terlalu memikirkan pakaiannya atau tunggangannya,
tetapi yang ia khawatirkan hanyalah buku-bukunya. Maka, dia mendatangi kepala
perampok dan berkata, *"Assalamualaikum."*
Kepala perampok menjawab, *"Pergilah, atau kami akan
membunuhmu."*
Pemuda itu berkata, *"Kalian telah mengambil sesuatu
dariku yang merugikanku tetapi tidak bermanfaat bagi kalian."*
Kepala perampok bertanya, *"Apa itu? Apakah hewan
tungganganmu? Kami tidak akan mengembalikannya."*
Pemuda itu menjawab, *"Tidak, buku-bukuku."*
Maka kepala perampok memerintahkan anak buahnya untuk
membawa kantong buku itu. Ketika kantong itu dibuka, kepala perampok berkata,
*"Ambillah buku-bukumu."*
Dia kagum pada keberanian pemuda itu, lalu memerintahkan
agar pakaian dan tunggangannya dikembalikan. Bahkan, kepala perampok memberikan
uang sebagai hadiah. Namun, pemuda itu menolak dan berkata, *"Ini adalah
uang haram."*
Kepala perampok tertawa dan berkata, *"Uang ini halal
bagi kami, lebih baik daripada air hujan."*
Pemuda itu bertanya, *"Bagaimana mungkin uang ini
halal?"*
Kepala perampok menjelaskan, *"Dengarkan. Panggil
pedagang ini!"*
Lalu dia bertanya kepada seorang pedagang, *"Apa perdaganganmu?"*
Pedagang itu menjawab, *"Saya berdagang unta dan
kambing."*
Kepala perampok bertanya, *"Berapa zakat untuk
unta?"*
Pedagang itu menjawab, *"Saya tidak tahu."*
Kepala perampok bertanya lagi, tetapi pedagang itu tetap
tidak tahu. Maka kepala perampok berkata, *"Pergilah."*
Kemudian dia memanggil pedagang lain, *"Apa
perdaganganmu?"*
Pedagang itu menjawab, *"Saya berdagang emas dan
perak."*
Kepala perampok bertanya, *"Berapa nisab
emas?"*
Pedagang itu menjawab, *"70."*
Kepala perampok berkata, *"Salah."*
Pedagang itu berkata lagi, *"80."*
Kepala perampok kembali berkata, *"Salah."*
Setelah itu, kepala perampok menoleh kepada pemuda dan
berkata, *"Mereka ini tidak mengeluarkan zakat atas harta mereka, sehingga
ada hak lebih yang bukan milik mereka. Allah mengutus kami untuk menghukum
mereka dan mengambil hak itu!"*
Namun, pernyataannya seperti ungkapan:
*"Betapa mulianya memberi makan anak yatim dari hasil
kerja tubuhnya sendiri. Celaka, janganlah berzina sambil
bersedekah!"*
Lihatlah, bagaimana kepala perampok ini membuat pembenaran
untuk dirinya sendiri, padahal itu bukanlah pembenaran yang sah.
Pelajaran:
cerita ini
adalah hikmah yang mengandung pelajaran moral. Kisah tersebut menggambarkan
bagaimana seseorang bisa memanipulasi pikirannya sendiri untuk membenarkan
kesalahan yang ia lakukan, bahkan dengan dalih-dalih agama atau logika yang
salah.
Namun, pelajaran
utama yang dapat kita ambil adalah pentingnya kejujuran kepada diri sendiri dan
pengakuan atas kesalahan tanpa mencari-cari alasan untuk membenarkannya. Ini
adalah pengingat agar kita tidak terjerumus dalam perilaku serupa, karena
setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semoga kita
selalu diberikan keteguhan hati untuk menjauhi dosa dan tetap berpegang teguh
pada kebenaran. Amin.
http://saaid.org/gesah/411.htm

.png)