Kode Kota Asal

HZXvHRD6GRO6JpT9HRe7JmQ7GIHfwBWkwIScq707JA5vyT4crjCzNjCnORT7KROvJpX=

SEORANG FAQIH YANG BERBEDA!!



Oleh: Khalid Abdullah Al-Ghamdi
 

 

Bismillahirrahmanirrahim 

 

Sebagian orang ketika melakukan kesalahan, agar tidak menyalahkan dirinya sendiri, mereka mulai mencari alasan dan pembenaran untuk keluar dari rasa bersalah. Misalnya, seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Ketika dirinya bertanya, *"Mengapa kamu durhaka kepada orang tuamu?"*, dia akan menjawab dirinya sendiri, *"Karena ayahku tidak memberiku uang, tidak membelikan mobil, atau tidak mendidikku seperti cara si Fulan mendidik anaknya."* Maka, dia pun mulai mencari alasan untuk melanjutkan kedurhakaannya. 

 

Hal yang sama terjadi pada seseorang yang memakan harta orang lain. Dia akan duduk merenung, mencari pembenaran dan alasan untuk membenarkan perbuatannya. 

 

Diceritakan bahwa ada seorang pemuda yang mencintai ilmu dan ingin melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain untuk menuntut ilmu. Dahulu, para ulama tidak memiliki teknologi seperti yang kita miliki sekarang. Saat ini, seseorang bisa menuntut ilmu sambil duduk di rumah melalui internet, membaca buku, atau bertanya kepada para ulama. Namun, di masa lalu, seseorang harus bepergian dari satu negeri ke negeri lain untuk belajar. 

 

Pemuda ini, seorang pencari ilmu, berkeinginan untuk melakukan perjalanan jauh. Ia membawa buku-bukunya, sedikit pakaian, dan kemudian bergabung dengan kafilah perjalanan. Pemuda ini berbincang dengan para anggota kafilah, mengimami mereka dalam shalat, dan mereka melanjutkan perjalanan melintasi gurun. 

 

Tiba-tiba, sekelompok perampok muncul dan menghadang kafilah. Para perampok mengambil semua barang, harta, dan hewan tunggangan, bahkan mencopot pakaian para anggota kafilah hingga hanya menyisakan penutup aurat. 

 

Pemuda itu berdiri memandang para perampok yang membagi-bagi barang rampasan. Dia tidak terlalu memikirkan pakaiannya atau tunggangannya, tetapi yang ia khawatirkan hanyalah buku-bukunya. Maka, dia mendatangi kepala perampok dan berkata, *"Assalamualaikum."* 

 

Kepala perampok menjawab, *"Pergilah, atau kami akan membunuhmu."* 

 

Pemuda itu berkata, *"Kalian telah mengambil sesuatu dariku yang merugikanku tetapi tidak bermanfaat bagi kalian."* 

 

Kepala perampok bertanya, *"Apa itu? Apakah hewan tungganganmu? Kami tidak akan mengembalikannya."* 

 

Pemuda itu menjawab, *"Tidak, buku-bukuku."* 

 

Maka kepala perampok memerintahkan anak buahnya untuk membawa kantong buku itu. Ketika kantong itu dibuka, kepala perampok berkata, *"Ambillah buku-bukumu."* 

 

Dia kagum pada keberanian pemuda itu, lalu memerintahkan agar pakaian dan tunggangannya dikembalikan. Bahkan, kepala perampok memberikan uang sebagai hadiah. Namun, pemuda itu menolak dan berkata, *"Ini adalah uang haram."* 

 

Kepala perampok tertawa dan berkata, *"Uang ini halal bagi kami, lebih baik daripada air hujan."* 

 

Pemuda itu bertanya, *"Bagaimana mungkin uang ini halal?"* 

 

Kepala perampok menjelaskan, *"Dengarkan. Panggil pedagang ini!"* 

 

Lalu dia bertanya kepada seorang pedagang, *"Apa perdaganganmu?"* 

 

Pedagang itu menjawab, *"Saya berdagang unta dan kambing."* 

 

Kepala perampok bertanya, *"Berapa zakat untuk unta?"* 

 

Pedagang itu menjawab, *"Saya tidak tahu."* 

 

Kepala perampok bertanya lagi, tetapi pedagang itu tetap tidak tahu. Maka kepala perampok berkata, *"Pergilah."* 

 

Kemudian dia memanggil pedagang lain, *"Apa perdaganganmu?"* 

 

Pedagang itu menjawab, *"Saya berdagang emas dan perak."* 

 

Kepala perampok bertanya, *"Berapa nisab emas?"* 

 

Pedagang itu menjawab, *"70."* 

 

Kepala perampok berkata, *"Salah."* 

 

Pedagang itu berkata lagi, *"80."* 

 

Kepala perampok kembali berkata, *"Salah."* 

 

Setelah itu, kepala perampok menoleh kepada pemuda dan berkata, *"Mereka ini tidak mengeluarkan zakat atas harta mereka, sehingga ada hak lebih yang bukan milik mereka. Allah mengutus kami untuk menghukum mereka dan mengambil hak itu!"* 

 

Namun, pernyataannya seperti ungkapan: 

 

*"Betapa mulianya memberi makan anak yatim dari hasil kerja tubuhnya sendiri. Celaka, janganlah berzina sambil bersedekah!"* 

 

Lihatlah, bagaimana kepala perampok ini membuat pembenaran untuk dirinya sendiri, padahal itu bukanlah pembenaran yang sah. 

 

Pelajaran: 

cerita ini adalah hikmah yang mengandung pelajaran moral. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana seseorang bisa memanipulasi pikirannya sendiri untuk membenarkan kesalahan yang ia lakukan, bahkan dengan dalih-dalih agama atau logika yang salah.

Namun, pelajaran utama yang dapat kita ambil adalah pentingnya kejujuran kepada diri sendiri dan pengakuan atas kesalahan tanpa mencari-cari alasan untuk membenarkannya. Ini adalah pengingat agar kita tidak terjerumus dalam perilaku serupa, karena setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semoga kita selalu diberikan keteguhan hati untuk menjauhi dosa dan tetap berpegang teguh pada kebenaran. Amin.

http://saaid.org/gesah/411.htm


5504478272144763068 SIMPLETOKOV1.0.0

Easy Checkout.

Pesanan Anda otomatis terhubung ke Nomer WhatsApp.

CS Ramah

Anda dapat menghubungi CS Kami kapan saja untuk konfirmasi pesanan Anda

Produk Original

Kami pastikan Anda mendapatkan produk dengan kualitas Original

Selamat Belanja

Selamat Belanja
TOKO IMSYA
Ok

Daftar Belanja Anda :

Total Harga ( Produk)

:

:

Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Biaya ongkir: dg berat ()
Total Pembayaran:

Isi dengan Jalan, No. Rumah dan RT/RW

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya