Kode Kota Asal

HZXvHRD6GRO6JpT9HRe7JmQ7GIHfwBWkwIScq707JA5vyT4crjCzNjCnORT7KROvJpX=

SANG PENGGANTI


Hissah Ibrahim Al-Jarbou

Aku memiliki kecantikan yang minim dan tidak pernah mendapat kesempatan yang cukup untuk membuat namaku disebut-sebut di kalangan perempuan sebagai calon pengantin potensial. Namun demikian, aku tidak menyimpan masalah psikologis, juga tidak mengejar hal-hal atau khayalan yang tidak nyata. Karena itu, aku fokus pada pengembangan diri, memperkuat kepribadianku, dan meningkatkan bakat serta keterampilanku dalam segala hal yang aku minati. 

 

Itulah sebabnya aku sering mengkritik ibuku dalam hati saat aku melewatinya dan mendengar doa-doa tulus serta kalimat-kalimat pedih yang keluar dari hati yang cemas, seolah-olah aku adalah gadis malang yang tidak akan mendapatkan keberuntungan di dunia ini. Padahal aku melihat diriku – jauh dari kecantikan fisik – sebagai seseorang yang cantik karena hatiku dipenuhi cinta dan pikiranku dengan wawasan. Aku merasa bebas, mandiri, mampu menanggung tanggung jawab terhadap diriku dan orang lain, serta yakin bahwa aku bisa sukses dalam menghadapi berbagai pengalaman hidup.

Suatu sore, ibuku menemui aku dengan mata bersinar kebahagiaan yang cukup untuk menerangi seluruh alam semesta. Dia memelukku erat hingga hampir membuat tulang-tulang rusuk kami bertabrakan. Kemudian dia berbisik di telingaku: "Selamat, calon suamimu telah datang. Allah telah mengabulkan doaku." Ibuku begitu gembira, tapi kebahagiaannya bukan kebahagiaan seorang ibu yang anak perempuannya dilamar. Rasanya seperti kebahagiaan orang yang selamat dari maut setelah berjuang antara hidup dan mati, dan nyaris lebih dekat pada kematian. Oleh karena itu, aku merasa tidak nyaman dengan kegembiraan yang berlebihan itu, terutama karena aku menghargai diriku sendiri.

Dia adalah pemuda yang ideal untuk sebuah hubungan yang sempurna. Persiapan berlangsung dengan cepat, dan disepakati bahwa acaranya akan sederhana, hanya pesta kecil, kemudian dia akan datang menjemputku dari rumah orang tuaku ke rumah baru kami. Semua berjalan dengan cepat, namun ada sesuatu yang membuatku merasa nyaman: dia tidak meminta melihatku saat melamar, yang kutangkap adalah dia tidak menginginkan syarat fisik atau kecantikan tertentu. Itu membuatku merasa tenang, tidak ada keraguan tentang pertemuan pertama kami.

 

Pada malam yang telah ditentukan, aku pindah ke rumah baru kami dan melepaskan hijab serta abaya-ku. Tiba-tiba, dia berteriak dengan suara keras: "Ini bukan kamu! Kalian menipuku! Bukan kamu?!!" 

Hanya satu kalimat itu yang membuatku sadar akan nasibku, semuanya menjadi jelas.

Aku berkata, "Lalu siapa?" Dia menjawab, "Gadis tinggi berkulit putih, kecantikannya terlihat meskipun tertutup. Bagaimana jika tanpa penutup?!" Aku bertanya, "Siapa dia?" Dia menjawab, "Gadis yang keluar masuk rumahmu setiap hari. Aku memperhatikannya selama sebulan, dan mencintainya. Aku ingin menikahinya."

Saat itu, kesabaran menjadi teman setiaku, dan aku tetap tenang, mengumpulkan seluruh kekuatanku! Aku berkata padanya: "Itu adikku yang lebih muda, bukan aku! Saat kamu melamar kami, kamu tidak menyebut nama siapa pun, hanya meminta seorang gadis dari rumah ini yang dipenuhi kesucian dan kemuliaan. Andai saja kamu menyebut namanya, kami akan tahu. Tapi sekarang, semuanya sudah jelas. Aku tidak punya urusan dengan ini. Kamu bebas untuk melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Aku akan kembali ke rumah orang tuaku besok."

Keheningan menyelimuti ruangan. Dia berbaring di ranjang dengan pakaian pengantin, sementara aku duduk di kursi dengan pakaian pengantin. Hingga fajar pertama mulai menyingsing, aku tetap tidak bergerak sampai aku bahkan tidak merasakan tubuhku lagi; tidak tahu mana tubuhku dan mana kursinya. Dia tidur larut malam, dan saat terbangun, dia melihatku masih berada dalam posisi yang sama lebih dari empat jam sebelumnya. Dalam keadaan di mana sisi kemanusiaannya lebih dominan, dia mengajakku untuk beristirahat di tempat tidur, setidaknya sebentar. Tapi seperti yang kukatakan, aku seperti kursi yang kududuki. Karena aku tidak bereaksi, dia berdiri, memegang tanganku, dan membantuku bangkit. Sentuhan tangannya di tanganku adalah sentuhan yang mengubah hidup kami berdua. Mengapa? Karena seperti yang dia ungkapkan kemudian, dia berkata: "Demi Allah, ketika aku menyentuh tanganmu, cintamu mengalir ke dalam tanganku, meresap ke dalam hatiku dan menetap di sana."

 

Dia melihatku sebagaimana aku melihat diriku. Aku menjadi cinta dalam hidupnya, seperti yang dia banggakan, menjadi "mahkota kepalanya." Aku menjadi impiannya yang tiada duanya. Tapi aku tahu itu adalah kehendak Tuhan, bukankah Dia telah berfirman: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 21)[1]



[1] (Cuplikan dari Majalah "Banat Al-Yaum", edisi 13)

 

5504478272144763068 SIMPLETOKOV1.0.0

Easy Checkout.

Pesanan Anda otomatis terhubung ke Nomer WhatsApp.

CS Ramah

Anda dapat menghubungi CS Kami kapan saja untuk konfirmasi pesanan Anda

Produk Original

Kami pastikan Anda mendapatkan produk dengan kualitas Original

Selamat Belanja

Selamat Belanja
TOKO IMSYA
Ok

Daftar Belanja Anda :

Total Harga ( Produk)

:

:

Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Biaya ongkir: dg berat ()
Total Pembayaran:

Isi dengan Jalan, No. Rumah dan RT/RW

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya