Seorang Wanita di Saat-saat Terakhirnya
Abdul Razzaq Al-Mubarak
Ini adalah kisah yang lebih mirip dengan dongeng daripada kenyataan. Jika seseorang menceritakan hal ini kepada saya, mungkin saya akan banyak bertanya dan mencari kepastian.
Pada suatu malam panjang di musim dingin di (Oregon), bagian barat laut Amerika Serikat, tepatnya pada bulan Syawwal tahun 1419 H, saya sedang duduk di meja kerja setelah selesai melaksanakan shalat Isya.
Di kota (Eugene), di mana saya adalah seorang mahasiswa di Universitas (Oregon), saya terhanyut dalam pelajaran. Suasana sangat tenang, dan satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara anak kecil saya yang sedang bermain, serta suara hujan yang turun sesekali, yang justru membuat saya semakin semangat.
Tiba-tiba, dering telepon memecah keheningan. Di ujung telepon adalah saudara saya seiman asal Aljazair, bernama (Syaqib). Setelah salam, ia menyampaikan kejadian yang sangat aneh, namun menggembirakan.
Istrinya yang merupakan seorang muslimah Amerika, (Karimah), memiliki bibi yang beragama Nasrani. Bibi tersebut dibawa ke rumah sakit Sacred Heart yang hanya berjarak tiga menit dari rumah saya. Setelah didiagnosa, para dokter tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa kehidupan bibi tersebut tidak dapat diselamatkan. Waktunya hanya tinggal satu atau dua jam, mungkin lebih atau mungkin kurang, hanya Allah yang tahu.
Syaqib menceritakan bagaimana dia dan istrinya mencoba melakukan upaya terakhir dengan mengajaknya memeluk Islam, meskipun waktu hidupnya tinggal sedikit. Ia berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dan petunjuk. Setelah shalat dua rakaat dan memohon kepada Allah dalam sujudnya, Syaqib mengutus istrinya untuk mendatangi bibinya di rumah sakit dan mengajaknya untuk bersyahadat.
Karimah menjelaskan bahwa Islam menghapus segala dosa yang dilakukan sebelumnya dan Allah akan mengampuni semua dosa jika ia bersaksi dengan ikhlas di dalam hatinya, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."
Namun, karena wanita tersebut sudah tidak mampu lagi berbicara, Karimah dengan bijaksana memintanya untuk mengucapkan syahadat dalam hati dan mengangkat tangannya sebagai tanda jika ia telah mengucapkannya. Setelah mendengarkan ajakan tersebut, dengan perlahan, tangan wanita itu mulai terangkat, lebih tinggi dari sebelumnya, dan senyuman menghiasi wajahnya, tanda ia menerima Islam dengan penuh kerelaan.
Karimah, dipenuhi kebahagiaan, mulai membacakan Surat Yasin di hadapannya, sementara senyuman kebahagiaan tetap menghiasi wajah wanita tersebut saat mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Seorang perawat Amerika yang menyaksikan kejadian ini tanpa diketahui oleh mereka, datang dan menawarkan diri sebagai saksi resmi atas masuk Islamnya bibi Karimah jika diperlukan. Allah yang Maha Kuasa memberikan kesaksian melalui lidah perawat tersebut.
Kemudian, Syaqib bertanya kepada saya tentang apa yang harus dilakukan terhadap wanita yang masih memiliki detak jantung dan nafas yang tersisa. Saya menjawab bahwa ia kini adalah saudara kita dalam Islam berdasarkan apa yang tampak, dan kita serahkan urusan batinnya kepada Allah. Hati saya penuh kegembiraan atas hidayah yang diberikan kepada wanita tersebut di akhir hidupnya.
Saya juga mengingatkan Syaqib tentang sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA: "Sesungguhnya setiap dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari sebagai nutfah, kemudian menjadi alaqah selama waktu yang sama, kemudian menjadi mudghah, lalu diutuslah malaikat yang meniupkan roh ke dalamnya dan diperintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah ia termasuk orang yang bahagia atau celaka. Demi Allah, yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya salah satu dari kalian beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta, lalu kitab takdir mendahuluinya, dan dia beramal dengan amalan ahli neraka hingga akhirnya dia masuk neraka. Dan salah satu dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, lalu kitab takdir mendahuluinya, dan dia beramal dengan amalan ahli surga hingga akhirnya dia masuk surga."
Beberapa saat kemudian, ketika saya menghubungi Syaqib untuk memberitahunya bahwa wanita tersebut harus melaksanakan shalat maghrib dan isya sesuai kemampuannya, ia memberi tahu saya bahwa ajal telah menjemput wanita itu. Ia meninggal dalam keadaan muslim, menerima Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, tanpa sempat melakukan satu pun shalat.
Kami memohon kepada Allah agar memberikan rahmat kepadanya dan menerimanya dengan sebaik-baiknya. Ya Allah, kami memohon akhir yang baik, wahai Yang Maha Pengasih.
Sumber: Majalah Al-Bayan.

.png)