Kode Kota Asal

HZXvHRD6GRO6JpT9HRe7JmQ7GIHfwBWkwIScq707JA5vyT4crjCzNjCnORT7KROvJpX=

TAWANAN ISTANA


Karya Abdullah Al-Ayada

Kegaduhan tak biasa menyelimuti rumah kecil kami. Ini adalah saat-saat terakhir kami di sini. Aku mulai mengucapkan selamat tinggal pada setiap sudut, dinding, dan jendela rumah ini yang telah menjadi saksi kenangan terindah sejak awal pernikahanku. Rumah ini adalah hadiah pernikahanku, dan pada masanya, ia bagai istana megah. Di sinilah aku mencatat momen-momen penuh kebahagiaan, cinta, kasih sayang, dan rahmat.

Hari ini adalah hari terakhir kami di sini. Aku berkata dalam hati, Subhanallah, betapa cepat manusia melupakan masa lalu dan menginginkan sesuatu yang lebih besar dan luas tanpa tahu apa yang menantinya. Tetapi itulah jiwa manusia, selalu menginginkan lebih dan mudah melupakan.

Aku berdiri memberikan pandangan perpisahan terakhir. Dalam sekejap, pikiranku kembali ke masa lalu, saat aku pertama kali masuk ke rumah ini sebagai pengantin baru. Namun, suamiku menarik tanganku, membawaku kembali ke kenyataan sambil berkata, “Kau akan melupakan rumah ini ketika masuk ke istana itu.” Aku menjawab, “Segala puji bagi Allah yang telah menggantikan dan melapangkan rezeki kami.”

Kami memasuki istana baru itu, dan sungguh luar biasa! Seperti surga di bumi. Kebahagiaan yang aku rasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku merasa seperti kupu-kupu yang melayang di antara bunga-bunga, penuh keanggunan. Aku adalah nyonya istana ini. Subhanallah, nikmat yang tak terhitung bagi siapa saja yang bersyukur.

Bulan-bulan berlalu, dan aku masih tenggelam dalam euforia kebahagiaan di istana ini. Suatu hari, suamiku mengadakan jamuan besar, mengundang keluarga dan teman-teman untuk berkunjung. Aku menolak membiarkannya memesan makanan dari hotel karena aku ingin mempersiapkan jamuan itu sendiri. Dari pagi, aku membangunkan para pekerja dan mulai mempersiapkan segalanya. Aku ingin menunjukkan bahwa aku mampu bersaing dengan layanan hotel dan restoran, sekaligus membuktikan diriku di mata suamiku.

Pukul sepuluh pagi, suamiku meninggalkan rumah sambil tersenyum hangat yang membuatku merasakan campuran kebahagiaan dan kecemasan. Ketika waktu salat Zuhur tiba, aku menunaikan salat dan kembali menyempurnakan persiapan meja makan. Para tamu mulai berdatangan, dan ruang tamu penuh oleh pria dan wanita. Namun, entah kenapa, aku merasa cemas tanpa alasan jelas.

Pukul setengah dua siang, suamiku belum kembali. Aku mulai gelisah. Tangan dan kakiku gemetar. Anak perempuanku ketakutan melihatku. “Ada apa, Bu?” tanyanya. Aku hanya menjawab, “Ayahmu belum pulang, dan tamu-tamu sudah berkumpul.”

Pikiran buruk mulai menghantuiku. Apakah dia mengalami kecelakaan? Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin mobilnya mogok, pikirku, tetapi dia pasti akan menelepon jika itu terjadi.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua setengah, suasana di istana berubah. Kekhawatiran meliputi semua orang. Telepon berbunyi, dan aku bergegas mengangkatnya sambil berkata, “Di mana kamu, sayang? Para tamu sudah menunggu, dan makanan sudah siap.” Namun, suara di seberang berkata dengan tegas, “Aku bukan suamimu.”

Seketika, telepon terjatuh dari tanganku. Aku memandang pintu ruang tamu yang mulai sepi karena tamu-tamu pergi tanpa makan. Perasaanku kacau. Apa yang sebenarnya terjadi?

Saudaraku masuk dengan langkah berat. Di matanya ada sisa air mata yang belum tumpah. Aku langsung tahu bahwa sesuatu yang berat telah terjadi. Dengan suara bergetar, aku bertanya, “Di mana suamiku? Apa yang terjadi?” Namun, dia tidak menjawab, hanya berbalik menyembunyikan tangisnya.

Pada saat itu, aku menyadari bahwa suamiku telah pergi untuk selamanya. Aku mengikuti saudaraku, setengah tak percaya. Dia berkata, “Begitulah kematian, datang tanpa pemberitahuan.” Aku mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Ya Allah, berilah aku kesabaran dan gantikanlah dengan yang lebih baik.”

Istana yang megah ini kini terasa kosong dan sunyi, berubah menjadi istana bayangan. Cahaya kebahagiaan telah padam, dan fondasinya telah runtuh. Aku yang dulu berharap bisa tinggal lama di istana ini harus menerima kenyataan pahit ini. Namun, aku mencoba bersabar, berserah diri, dan menerima takdir Allah dengan lapang dada.

Betapa dunia ini penuh fana. Berapa banyak penghuni istana yang harus meninggalkannya? Berapa banyak orang yang memimpikan kebahagiaan duniawi, namun maut menghentikan langkah mereka?

Ah, dunia ini, betapa seringnya ia merusak kebahagiaan dan memisahkan orang-orang tercinta. Apakah ada yang benar-benar mengambil pelajaran dari semua ini?

5504478272144763068 SIMPLETOKOV1.0.0

Easy Checkout.

Pesanan Anda otomatis terhubung ke Nomer WhatsApp.

CS Ramah

Anda dapat menghubungi CS Kami kapan saja untuk konfirmasi pesanan Anda

Produk Original

Kami pastikan Anda mendapatkan produk dengan kualitas Original

Selamat Belanja

Selamat Belanja
TOKO IMSYA
Ok

Daftar Belanja Anda :

Total Harga ( Produk)

:

:

Ongkos kirim akan muncul setelah ongkir dipilih

Biaya ongkir: dg berat ()
Total Pembayaran:

Isi dengan Jalan, No. Rumah dan RT/RW

Tulis catatan disini untuk keterangan lainnya